TAFSIR SURAT ADH DHUHA

img_20161116_182758adh-duha Rabu, 16 November 2016 Kajian Rutin Tafsir Juz Amma Pemateri : Ustadz Abu Ja'far Cecep Rahmat, Lc ( Mudir Pesantren Tahfizh Al Hunafa ) Surat : Adh-Dhuha Tempat : Masjid Baiturrahman Pura Melati Indah Pondok Gede Allah berfirman setelah أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ وَالضُّحَىٰ﴿١ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ﴿٢ 1) "Demi waktu matahari sepenggalahan naik" 2) "Dan demi malam apabila telah sunyi" Dikedua ayat ini Allah Ta'ala bersumpah dengan menyebut sebagian makhluknya, ini menunjukan bahwa makhluk tersebut termasuk tanda-tanda kekuasaan-Nya yang agung. Dengan kata lain, hal itu memang sesuatu yang amat penting yang perlu diperhatikan dan di apresiasi oleh manusia. Karena ada dua sebab Allah Ta'ala bersumpah dengan makhlukNya : 1. Tashrif ( Untuk Memuliakan ) 2. Tanbih ( Sebagai Perhatian ) مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ﴿٣ وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ﴿٤ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ﴿٥﴾ 3) "Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu" 4) "Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan" 5) "Dan kelak pasti Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas" Di sini Allah menunjukkan akan tidak akan sampai meninggalkan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak membenci melainkan Allah sangat mencintai Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berkaitan tentang masa-masa menunggu Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan datangnya wahyu Allah Ta'ala dan Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat gelisah dan kebingungan. Allah Ta'ala menghibur Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan janjiNya akan kemenangan besar dan karunia Allah Ta'ala kepada Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu ditaklukkannya negeri-negeri oleh kaum muslimin dan berbondong-bondongnya manusia yang mentauhidkan Allah Ta'ala di Penjuru Dunia. أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰوَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ﴿٧ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ﴿٨ فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ﴿٩ 6) "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?" 7) "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk?" 8) "Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberikan kecukupan?" Al Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan: “Kemudian Allah menyebutkan beberapa kenikmatan yang telah Ia karuniakan kepada hamba dan RasulNya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam: أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu?). Hal itu, karena ayah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, sedangkan ia masih berada di dalam rahim ibunya. Ada yang mengatakan, (ayahnya meninggal) setelah beliau dilahirkan. Kemudian, ibunya (yang bernama) Aminah bintu Wahb meninggal, sedangkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berusia enam tahun. Kemudian beliau diasuh kakeknya Abdul Muththalib, dan akhirnya meninggal pula pada saat usia beliau delapan tahun. Lalu diasuh pamannya. Maka, paman beliaulah yang benar-benar melindunginya, membelanya, meninggikan derajatnya, menghormatinya, dan terus menolong dan melindunginya dari gangguan kaumnya, sampai akhirnya Allah mengutus beliau sebagai seorang Rasulullah, dan usia beliau ketika itu sudah empat puluh tahun. Demikianlah, namun Abu Thalib tetap memeluk agama kaumnya, (berupa) penyembahan berhala. Semuanya itu terjadi dengan taqdir Allah dan bimbinganNya. Hingga akhirnya Abu Thalib pun meninggal beberapa saat sebelum beliau hijrah. Pada saat itu, orang-orang kuffar Quraisy mulai berani mengganggu dan menyakiti beliau. Maka Allah memerintahkan RasulNya agar berhijrah dan pindah menuju sebuah tempat kaum al Anshar dari kalangan al Aus dan Al Khajraj. Maka terjadilah sunnatullah (ketentuan Allah) ini dengan sangat baik dan sempurna. Tatkala beliau sampai kepada mereka, mereka menyambutnya, membelanya, melindunginya, dan (bahkan) merekapun berperang bersamanya. Semoga Allah meridhai mereka seluruhnya. Semuanya ini terjadi dengan penjagaan Allah terhadapnya dan bimbinganNya selalu kepadanya" Kemudian, Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, (ayat ketujuh ini) seperti firman Allah : وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُوراً نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apa al Kitab (al Qur`an), dan tidak pula mengetahui apa iman itu? Tetapi Kami menjadikan al Qur`an itu cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. – asy Syura ayat 52). Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullah berkata,”(Maksud ayat ini adalah), Allah mendapati dirimu (wahai Muhammad) dalam keadaan kamu tidak mengetahui apa itu al Qur`an dan apa itu iman, lalu Allah mengajarkan kepadamu apa-apa yang belum kamu ketahui, dan Dia pula yang mendidik dan membimbingmu agar amal perbuatan dan akhlakmu semakin baik.” Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”(Maksudnya ayat kedelapan adalah), bukankah dahulu kamu (wahai Muhammad) fakir dan miskin? Lalu Allah membuatmu cukup dari apa-apa selain Allah? Sehingga Allah menggabungkan dua sifat (terpuji). (Yaitu) seorang fakir yang bersabar dan seorang kaya (berkecukupan) yang bersyukur.” Ada sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ: ((لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرْضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Kekayaan bukanlah kekayaan harta, akan tetapi kaya itu adalah kekayaan (kecukupan) jiwa”. فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ﴿٩ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ﴿١٠ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ﴿١١ 9) "Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang!" 10) "Dan terhadap orang yang minta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya!" 11) "Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)" Adapun makna ketiga ayat terakhir dalam surat yang mulia ini adalah : Sebagaimana dahulu dirimu (wahai Muhammad) seorang yatim yang tidak memiliki ayah, lalu Allah melindungimu dengan penjagaanNya, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang atau menzhalimi anak yatim. Jangan pula kamu merasa sempit dadamu dengan kehadirannya. Dan jangan pula kamu menghardik atau membentaknya. Bahkan sudah seharusnya kamu memuliakannya. Berilah sesuatu yang mudah untuk kamu berikan kepadanya. Dan bermu’amalahlah kepadanya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana kamu bermu’amalah dengan anak-anakmu. Dan sebagaimana dahulu dirimu (wahai Muhammad) tersesat dan tidak memahami apapun, lalu Allah menunjukkanmu, maka janganlah kamu menghardik dan menolak dengan keras orang yang meminta-minta. Bahkan berilah sesuatu yang mudah untuk kamu berikan kepadanya. Atau jika tidak, maka tolaklah dengan baik, lemah-lembut, dan dengan akhlak yang baik. Hal ini, mencakup orang yang meminta harta ataupun ilmu. Oleh karenanya, seorang guru dituntut untuk berperangai mulia dan berakhlak baik terhadap anak didiknya. Ia dituntut untuk memuliakan dan mengasihi muridnya. Dan sebagaimana dahulu dirimu (wahai Muhammad) fakir dan membutuhkan pertolongan orang lain, lalu Allah pun mencukupkanmu, maka bersyukurlah kepadaNya dengan menyebut-nyebut kenikmatan-kenikmatan Rabb-mu yang mencakup kenikmatan di dunia maupun kenikmatan di akhirat, yang telah Ia karuniakan kepadamu jika terdapat padanya kemaslahatan. Dan jika tidak ada maslahatnya, maka hendaknya kamu sebutkan kenikmatan-kenikmatan Rabb-mu secara mutlak. Karena menyebut-nyebut kenikmatan-kenikmatan Allah akan mengundang rasa syukur seorang mu’min, dan membuahkan bertambahnya rasa cinta dalam hatinya kepada Rabb-nya yang telah memberinya kenikmatan tersebut. Karena hati seseorang terfitrahkan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Berikut ini beberapa hadits shahih atau hasan yang berkaitan dengan ke tiga ayat di atas. 1. Hadits Sahl bin Sa’ad as Sa’idi Radhiyallahu anhu, beliau berkata : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ: ((أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا))، وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّـبَّابَةِ وَالْوُسْطَى. Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Aku dan orang yang menanggung (mengasuh) anak yatim seperti ini di surga”, dan beliau mengisyaratkan dengan ke dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengahnya. Faidah yang dapat kita ambil dari tafsir surat Adh-Dhuha adalah : 1. Ada dua sebab Allah Ta'ala bersumpah dengan makhlukNya : a) Tashrif ( Untuk Memuliakan ) b) Tanbih ( Sebagai Perhatian ) 2. Jangan jadikan kenormalan ( malam untuk tidur dan siang untuk mencari nafkah ) dibalik malam jadi siang dan siang jadi malam. Kecuali karena ada keperluan dan memang ada tugas, seperti : satpam, supir taxi, pilot dll yang jadwalnya ditugaskan dimalam hari. 3. Allah Tidak akan meninggalkan dan selalu mencintai RosulNya. Dan kita sebagai ummat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib ikut mencintai Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jangan menyelisihinya bahkan menghinakannya. 4. Allah Ta'ala akan senantiasa menolong RosulNya. 5. Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling juhud. Rosululloh pernah bersabda “Tidaklah aku di dunia ini melainkan (hanya) seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon lalu beristirahat dan kemudian meninggalkannya (pohon tersebut).” 6. Kekayaan hati lebih berharga daripada kekayaan dunia. Jangan menghardik anak-anak yatim dan peminta-minta. 7. Carilah akhirat maka dunia akan mengikutinya. 8. Bolehnya kita sebutkan kenikmatan-kenikmatan Rabb-kita secara mutlak. Karena menyebut-nyebut kenikmatan-kenikmatan Allah akan mengundang rasa syukur seorang mu’min, dan membuahkan bertambahnya rasa cinta dalam hatinya kepada Rabb-nya yang telah memberinya kenikmatan tersebut. Karena hati seseorang terfitrahkan mencintai orang yang berbuat baik kepadanya. Demikian tafsir singkat surat adh Dhuha ini. Semoga kita bisa merenungkan dan tergerak ketika kita sedang membaca surat Adh-Dhuha setelah penjelasan di atas dan menjadikan kita golongan orang-orang beriman dan selalu beramal sholeh yang jaminannya surga. Dan Mudah-mudahan kita senantiasa diberi taufikNya untuk menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tauladan, baik dari sisi aqidah, ibadah dan akhlak beliau yang mulia. Dan mudah-mudahan pula menambah iman, ilmu dan amal shalih kita. Aamiin Wallahu a’lam bish Shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *